Ministry of Faith dan Lifebuoy memberikan pelatihan dalam menjalankan hidup suci

Ministry of Faith dan Lifebuoy memberikan pelatihan dalam menjalankan hidup suci

Topautopay.com – Ministry of Faith bekerja sama dengan Lifebuoy untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat dalam menjalankan hidup suci. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan kesehatan dengan pendekatan yang holistik. Dengan adanya kerjasama ini, diharapkan masyarakat dapat hidup lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan spiritual.

Edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang diselenggarakan oleh Lifebuoy dan Kementerian Agama (Dok. Lifebuoy)

KEMENTERIAN AGAMA bersama Unilever Indonesia melalui Lifebuoy menyelenggarakan program “Pondok Pesantren Sehat Lifebuoy” yang tujuannya untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) santri dan santri.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini berlangsung di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, dan melibatkan 1.200 santri yang mendapatkan penyuluhan kesehatan sekaligus pelatihan untuk menciptakan duta santri.

Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki menyatakan kerja sama ini dapat mendukung peningkatan gaya hidup, termasuk aspek kesehatan yang bermanfaat khususnya bagi pesantren.

Baca Juga: Tema Hari Santri 2023 Merayakan Bumi dengan Jihad Intelektual di Era Transformasi Digital

“Karena pada dasarnya kalau santrinya sehat, Insya Allah Indonesia kuat,” kata Saiful.

Salah satu langkah pokok PHBS yang penting diterapkan di pesantren adalah gerakan cuci tangan pakai sabun (CTPS) pada 5 momen penting yaitu sebelum makan, setelah ke toilet, setelah bermain, setelah batuk atau bersin, dan setelah bepergian.

Jika dibiasakan, CTPS akan mampu melindungi siswa dari penyebaran berbagai penyakit dalam 5 momen penting.

Baca juga: Santri Kembali Jadi Korban Pencabulan, Kemenag: Kami Perkuat Permenag 73

Ketua Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Imelda Datau mengaku senang program ini ada di pesantren seluruh Indonesia, karena pola hidup bersih dan sehat sangat penting khususnya di kalangan pesantren. Aklimatisasi terhadap PHBS di lingkungan pesantren dapat menjaga atau menurunkan risiko terjadinya berbagai penyakit.

“Banyak sekali sebenarnya 183 penyakit yang disebabkan oleh kurangnya kebersihan dalam hal CTPS dan saat kita membersihkan gigi dan mulut. “Jadi program ini harus kita promosikan bersama-sama karena selama ini Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) bekerja sama dengan Lifebuoy sudah melakukan hal tersebut di sekolah dasar di lima cabang kami di seluruh Indonesia,” jelas Imelda.

Padahal, menurut teori penyakit menular model keju Swiss, kebiasaan ini merupakan langkah awal perlindungan terhadap ancaman penyakit menular, setelah vaksin. Sementara jika melihat data BPS, perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) di DKI Jakarta baru mencapai 54,8% dari total penduduk, sehingga perlu meningkatkan kebiasaan CTPS pada lebih banyak masyarakat di DKI Jakarta.

Baca Juga: School Lunch Program Solusi Pemenuhan Makanan Bergizi Santri

Head of Skin Cleansing Unilever Indonesia Erfan Hidayat menjelaskan peran Lifebuoy dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan di lingkungan pesantren. Salah satunya dengan terciptanya duta santri sebagai pendidik sejawat dari program peer learning.

“Hingga tahun 2019, program Pondok Pesantren Sehat Lifebuoy telah menjangkau lebih dari 2.000 pondok pesantren dan memberikan manfaat kepada lebih dari 900.000 santri di Indonesia.

Tahun ini program Pondok Pesantren Sehat Lifebuoy hadir di Jakarta dengan tujuan untuk memberikan dampak yang lebih luas melalui serangkaian kegiatan mulai dari pembelajaran antar teman, pelatihan bagi pelatih (untuk santri, ustadz dan ustadzah), yang baik dan benar. . Pendidikan CTPS, hingga pemeriksaan kesehatan.

Baca juga: Pondok Pesantren Khilafatul Muslimin Tak Terdaftar di Kemenag

“Kami berharap dengan kerja sama yang dilakukan di pesantren di berbagai kota di Indonesia, mampu menjangkau tambahan satu juta santri di lebih dari 1.500 pesantren,” jelas Erfan.

Interaksi yang intensif antar civitas pesantren menjadikan pesantren sebagai satuan pendidikan yang berpotensi efektif dalam membiasakan CTPS pada 5 momen penting melalui metode peer learning, dimana mereka saling meneladani dan meniru berbagai perilaku positif satu sama lain. .

Menurut studi yang dilakukan oleh Hungaria Academy of Sciences, pembelajaran peer-to-peer atau program pendidikan melalui teman sebaya merupakan salah satu metode pendidikan yang paling efektif dalam mengajarkan CTPS pada anak. Penelitian ini menunjukkan bahwa program peer education dapat meningkatkan pengetahuan teoritis tentang CTPS dan cara mempraktikkan CTPS yang benar hampir 2 kali lebih baik dari sebelumnya, dan dapat bertahan selama 4 bulan setelah program berakhir.

Baca Juga: Kemenag Batalkan Izin Penyelenggaraan Pondok Pesantren Manarul Huda Antapani

Pengurus Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Ahmad Mahrus Iskandar yang turut berperan sebagai penerima manfaat dan pembawa acara hari ini mengatakan,

“Selama ini melalui peran santri wali, dari sebelum adanya virus Covid-19 hingga saat ini, kami terus mengimbau mereka untuk menerapkan pola hidup sehat. “Meski kita tinggal bersama dalam satu ruangan selama 24 jam, kita tentu menghadapi tantangan yang berbeda dengan kondisi pada umumnya,” ujarnya.

Untuk itu, tambah Ahmad Mahrus, para santri tidak boleh lengah dan putus asa, sehingga setiap ada kegiatan di lingkungan pesantren, beliau langsung mengajak para santri untuk melakukan kegiatan penyelamatan sabun mandi bersama para duta cuci tangan. dari siswa sehingga mengajarkan contoh kegiatan mencuci tangan yang benar selama 20 detik.

Baca juga: Menag: Perpres 82/2021 Kado Indah untuk Santri

“Alhamdulillah, kami juga menambah jumlah tempat cuci tangan, termasuk menyediakan sabun cuci tangan di lokasi sekitar Pondok Pesantren Asshiddiqiyah. Kami juga berharap mereka terbiasa mandi setiap hari dengan menggunakan produk-produk yang baik untuk kesehatannya. kulit dan rambut. Itu selalu diajarkan, karena perannya sangat penting bagi siswa, ”ujarnya.

Program Pondok Pesantren Lifebuoy dibagi menjadi dua tahap. Pertama, pemilihan duta santri oleh Pondok Pesantren sebagai peer pendidik untuk dilatih tentang PHBS khususnya CTPS oleh dokter dari PDUI. Hal ini penting karena salah satu faktor keberhasilan pembelajaran sejawat adalah kompetensi dan kemampuan pendidik sejawat.

Melalui pelatihan ini para duta mahasiswa akan memahami pentingnya CTPS dan bagaimana menerapkan CTPS dengan baik dan benar.

Baca juga: Dukung Kualitas Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi, Kemenag dan Unilever Gandeng

Tahap selanjutnya, Duta Santri akan kembali ke Pondok Pesantren untuk memulai Gerakan Pembiasaan CTPS selama 21 hari bersama santri/santri lainnya. Hal ini dilakukan karena menurut teori pembelajaran sejawat, pendidikan melalui pendidik sejawat yang berkompeten terbukti lebih efektif dibandingkan pendidikan guru dan siswa pada umumnya.

Selain pembelajaran peer-to-peer, Lifebuoy memberikan bantuan kepada pesantren berupa dana pendidikan, alat penunjang pendidikan dan pemeriksaan kesehatan gratis.

“Dengan dilaksanakannya program Pesantren Sehat Lifebuoy di DKI Jakarta, kami berharap dapat melahirkan agen-agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan dan masyarakat pesantren yang lebih sehat. Pada tahun 2024, program tersebut akan dilaksanakan di Semarang dan berlangsung di berbagai wilayah. kota-kota lain di Indonesia, antara lain “selebihnya Bandung, Palembang, Lampung, Banjarmasin, Makassar, Bengkulu, dan Padang,” pungkas Erfan Hidayat.(Z-5)

Ministry of Faith bekerja sama dengan Lifebuoy untuk memberikan pelatihan dalam menjalankan hidup suci. Pelatihan ini termasuk bagaimana menjaga kebersihan fisik dan spiritual. Diharapkan dengan pelatihan ini, masyarakat dapat hidup lebih sehat dan bermakna secara spiritual.

Source

Pos terkait