Memutus rantai HIV/AIDS dengan meningkatkan skrining

Putus Mata Rantai HIV/AIDS dengan Meningkatkan Skrining pada Ibu Hamil

Topautopay.com – HIV/AIDS masih menjadi masalah global yang serius. Meningkatkan skrining HIV dapat membantu memutus rantai penularan penyakit ini. Dengan skrining yang lebih luas, individu yang terinfeksi dapat segera mendapatkan perawatan yang dibutuhkan dan mencegah penyebaran lebih lanjut. Hal ini sangat penting untuk mengatasi masalah HIV/AIDS secara efektif.

Pada tahun 2023, diperkirakan terdapat 515.455 orang yang terinfeksi HIV di Indonesia. Oleh karena itu, pengobatan massal diperlukan untuk terus menurunkan kasus HIV di Indonesia. Ketua Satgas HIV/AIDS Kementerian Kesehatan Endang Lukitosari mengatakan salah satu kunci memutus rantai HIV adalah mencegah ibu hamil. Sebab, risiko penularan HIV dari ibu hamil berkisar 20-45%. “Namun, tidak semua ibu hamil menjalani skrining HIV. “Dari yang diskrining, 0,3% positif HIV dan hanya 46,3% yang mulai memakai ARV,” kata Endang dalam Forum Diskusi 12 Denpasar, Rabu (13/12). Baca juga: Mengenal Komplikasi Infeksi HIV pada Sistem Syaraf Diakuinya, masih banyak kendala dalam pengobatan HIV. Selain buruknya skrining, masih terdapat masalah stigma dan diskriminasi. Tidak hanya terdapat stigma diskriminasi di kalangan masyarakat dan profesional kesehatan, namun terdapat juga stigma yang cukup besar yang ada secara internal di kalangan ODHA. Baca juga: Perjuangan Melawan HIV dan AIDS Harus Dilakukan Secara Bersama-sama “Hal ini menyebabkan semakin banyak masyarakat yang takut untuk berobat dan masih banyaknya permasalahan HIV dan belum ada obat yang dapat menopangnya, begitulah jadinya kita menjadi kendala dalam mencapai indikator dan tujuan yang telah ditetapkan,” jelasnya. Masalah lainnya adalah hanya 40% ODHA yang kemudian menjalani terapi ARV. Padahal targetnya 95%. “Kendala terbesar adalah tidak melanjutkan pengobatan karena banyak faktor, salah satunya adalah tidak merasa sakit, terutama pada tahap awal karena tidak menunjukkan gejala penyakit sehingga merasa sehat, tidak melanjutkan atau sakit. tidak nyaman lalu berhenti karena harus minum obat setiap bulan dan seterusnya,” jelasnya. Faktanya, pengidap HIV yang rutin minum obat tidak bisa lagi menulari orang lain dan virusnya sudah tidak terdeteksi lagi. Dengan meminum obat ARV, 90% virus yang ada di tubuh pengidap HIV bisa ditekan. “Yang belum banyak diketahui masyarakat, virus HIV bisa dikendalikan dan tidak menular lagi,” jelasnya. Kasus HIV, khususnya pada anak, tidak sendirian. Kasus HIV pada anak sangat erat kaitannya dengan infeksi pada ibu hamil. Oleh karena itu, penting untuk melakukan skrining HIV pada ibu hamil. “Pengobatan HIV pada anak memerlukan pendekatan yang komprehensif seperti imunisasi. , pencegahan OI, nutrisi, ARV dan PASI”, ujarnya. Sebenarnya, lanjutnya, kita bisa melihat keberhasilan dalam menurunkan angka kasus baru, namun tidak sebanyak yang kita harapkan. Pada tahun 2010, jumlah kasus HIV di Indonesia sebanyak 48.487 kasus, kemudian pada tahun 2020 turun menjadi 27.580 kasus, dan pada tahun 2030 diharapkan jumlah kasus menurun menjadi 21.270 kasus. “Kami berharap dengan semakin banyaknya skrining massal, kelompok kunci dan khusus, termasuk ibu hamil, dapat menurunkan angka kejadian kasus baru,” jelasnya. Sementara Kementerian Kesehatan telah menetapkan target pada tahun 2030 agar 95% kasus dapat dicegah, 95% ODHA mengetahui statusnya, 95% ODHA mendapat pengobatan, 95% ODHA dapat dapat dihilangkan dengan ARV, 95% rantai penularan HIV terputus, 95% perempuan mempunyai akses terhadap HIV dan kesehatan reproduksi, dan 90% ODHA dan orang berisiko mempunyai akses terhadap layanan terpadu. “Dukungan kebijakan kementerian/lembaga dan dukungan penemuan kasus, sosialisasi dan advokasi dari otoritas daerah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Sangat diperlukan. Nurul Saadah Andriani dari Yayasan Pusat Advokasi Perempuan, Disabilitas dan Anak mengatakan diperlukan pendidikan massal. tentang pencegahan HIV/AIDS pada ibu hamil “Seringkali perempuan yang mengalami KDRT dalam keadaan hamil, apakah berhak mengontrol organ reproduksinya dan berpikir untuk tidak menulari pihak lain serta mengontrol aktivitas seksualnya,” jelasnya.(Z -5 )

Pada tahun 2023, diperkirakan terdapat 515.455 orang yang terinfeksi HIV di Indonesia. Oleh karena itu, pengobatan massal diperlukan untuk terus menurunkan kasus HIV di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Ketua Satgas HIV/AIDS Kementerian Kesehatan Endang Lukitosari mengatakan salah satu kunci memutus rantai HIV adalah mencegah ibu hamil. Sebab, risiko penularan HIV dari ibu hamil berkisar 20-45%.

“Namun, tidak semua ibu hamil menjalani skrining HIV. “Dari yang diskrining, 0,3% positif HIV dan hanya 46,3% yang mulai memakai ARV,” kata Endang dalam Forum Diskusi 12 Denpasar, Rabu (13/12).

Baca juga: Pengenalan komplikasi infeksi HIV pada sistem saraf

Diakuinya, masih banyak kendala dalam pengobatan HIV. Selain buruknya skrining, masih terdapat masalah stigma dan diskriminasi.

Tidak hanya terdapat stigma diskriminasi di kalangan masyarakat dan profesional kesehatan, namun terdapat juga stigma yang cukup besar yang ada secara internal di kalangan ODHA.

Baca juga: Pemberantasan HIV dan AIDS harus dilakukan secara bersama-sama

“Hal ini menyebabkan semakin banyak masyarakat yang takut untuk berobat dan masih banyak permasalahan HIV serta belum ada obat yang dapat menopangnya, hal-hal seperti inilah yang menjadi kendala bagi kita untuk mencapai indikator dan tujuan yang kita tetapkan,” dia menjelaskan.

Masalah lainnya adalah hanya 40% ODHA yang kemudian menjalani pengobatan ARV. Padahal targetnya 95%.

“Kendala terbesar adalah tidak melanjutkan pengobatan karena banyak faktor, salah satunya adalah tidak merasa sakit, terutama pada tahap awal karena tidak menunjukkan gejala penyakit sehingga merasa sehat, tidak melanjutkan atau sakit. tidak nyaman lalu berhenti karena harus minum obat setiap bulan dan seterusnya,” jelasnya.

Faktanya, pengidap HIV yang rutin minum obat tidak bisa lagi menulari orang lain dan virusnya sudah tidak terdeteksi lagi. Dalam waktu tiga bulan setelah mengonsumsi obat ARV, 90% virus di tubuh pasien HIV dapat ditekan.

“Yang belum diketahui banyak orang adalah virus HIV bisa dikendalikan dan tidak menular lagi,” jelasnya.

Sementara itu, ia menjelaskan, kasus HIV, khususnya pada anak-anak, tidak sendirian. Pada anak-anak, kasus HIV erat kaitannya dengan infeksi pada ibu hamil. Oleh karena itu, penting untuk melakukan skrining HIV pada ibu hamil.

“Pengobatan HIV pada anak memerlukan pendekatan yang komprehensif seperti imunisasi, pencegahan OI, nutrisi, ARV dan PASI,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjutnya, kita melihat keberhasilan dalam menurunkan angka kejadian kasus baru, namun tidak sebanyak yang kita harapkan. Pada tahun 2010, jumlah kasus HIV di Indonesia sebanyak 48.487 kasus, kemudian pada tahun 2020 turun menjadi 27.580 kasus, dan pada tahun 2030 diharapkan jumlah kasus menurun menjadi 21.270 kasus.

“Kami berharap dengan semakin banyaknya skrining massal, kelompok kunci dan khusus, termasuk ibu hamil, dapat menurunkan angka kejadian kasus baru,” jelasnya.

Sementara Kementerian Kesehatan telah menetapkan target pada tahun 2030 agar 95% kasus dapat dicegah, 95% ODHA mengetahui statusnya, 95% ODHA mendapat pengobatan, 95% ODHA dapat dapat dihilangkan dengan ARV, 95% rantai penularan HIV terputus, 95% perempuan mempunyai akses terhadap HIV dan kesehatan reproduksi, dan 90% ODHA dan orang berisiko mempunyai akses terhadap layanan terpadu.

“Dukungan kebijakan kementerian/lembaga dan dukungan penemuan kasus, sosialisasi dan advokasi dari otoritas daerah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Sangat diperlukan.

Nurul Saadah Andriani dari Yayasan Pusat Advokasi Perempuan, Penyandang Disabilitas dan Anak mengatakan perlu adanya pendidikan massal mengenai pencegahan HIV/AIDS pada ibu hamil.

“Seringkali perempuan yang mengalami KDRT sedang hamil, apakah mereka berhak mengontrol organ reproduksinya dan berpikir untuk tidak menulari pihak lain serta mengontrol aktivitas seksualnya,” jelasnya. (Z-5)

Meningkatkan skrining HIV/AIDS dapat memutus rantai penyebaran virus. Dengan deteksi dini, individu yang terinfeksi dapat segera mendapatkan perawatan dan mencegah penularan kepada orang lain. Pentingnya skrining tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi komunitas di sekitar kita. Mari bersama-sama memutus rantai HIV/AIDS dengan meningkatkan skrining.

Source

Pos terkait