Melalui transfer teknologi, Ethane berhasil berkembang

Melalui Transfer Teknologi, Etana Berhasil Kembangkan Berbagai Produk Bioteknologi dan Vaksin

Topautopay.com – Dengan memanfaatkan transfer teknologi, Ethane berhasil mencapai kemajuan yang signifikan. Berbagai inovasi dan peningkatan teknologi telah membantu perusahaan untuk berkembang dan memperluas jangkauan bisnisnya. Terobosan dalam transfer teknologi telah membantu Ethane untuk memperbaiki efisiensi dan produktivitas, sehingga menciptakan peluang baru bagi pertumbuhan perusahaan.

PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana), perusahaan biofarmasi asli Indonesia yang menjadi perusahaan pertama di ASEAN yang memiliki platform teknologi mRNA, telah mentransfer prestasinya dalam pengembangan rangkaian produk biologi dan vaksin melalui transfer teknologi dan kerja sama dengan berbagai pihak. baik di dalam maupun luar negeri. CEO Etana Nathan Tirtana mengatakan Etana saat ini sudah memiliki beberapa obat biologis, antara lain Erythropoietin Alfa yang digunakan pada pasien penyakit ginjal kronis (CKD) yang menjalani cuci darah untuk meningkatkan kadar darah merah (Hb) untuk mencegah anemia dan antibodi monoklonal- Bevacizumab yang digunakan pada pasien kanker untuk mengobati penyakit stadium lanjut. kanker paru-paru non-sel kecil dan kanker kolorektal metastatik. “Kami juga telah mengembangkan vaksin SARS-CoV-2 dengan teknologi mRNA yang merupakan vaksin Covid-19 pertama yang mendapat sertifikasi halal di dunia dari LPPOM-MUI dan diproduksi dalam negeri oleh Etana, serta vaksin PCV-13. yaitu vaksin anti inflamasi paru yang diberikan kepada anak – anak hingga usia 2 tahun,” kata Nathan dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia, Kamis (4/1). Nathan menjelaskan, pada tahun 2023, Etana akan fokus pada pengembangan produk biofarmasi melalui transfer teknologi yang dapat mempersingkat waktu produksi produk biologi dan vaksin. Untuk mencapai hal tersebut, Etana bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi terkemuka di berbagai negara. “Selain itu, Etana juga bekerja sama dengan akademisi dan pemerintah untuk melakukan penelitian dan development (R&D) untuk mengembangkan produk biologi baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia,” imbuhnya. Nathan mengatakan situasi pandemi ini menjadi dorongan bagi industri kesehatan yang harus menghadapi kenyataan betapa sulitnya mendapatkan vaksin untuk melawan virus. COVID-19. Teknologi dalam negeri belum mampu menghasilkan vaksin dengan cepat, dimana proses produksi vaksin biasanya memakan waktu 5-10 tahun. Belajar dari situasi ini, Etana mencoba menjawab tantangan yang ada dengan memperkenalkan teknologi baru yaitu teknologi mRNA melalui transfer teknologi bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi Tiongkok. “Proses transfer teknologi mRNA sudah dilakukan dengan baik, saat ini kita hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk memproduksi vaksinnya,” ujarnya. Lebih lanjut, Nathan mengungkapkan bahwa selama tahun 2023, Etana telah menjalin beberapa kerjasama dengan institusi dalam dan luar negeri yang tentunya didukung oleh pemerintah, antara lain Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of New South Wales (UNSW) Australia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam pengembangan penelitian, sumber daya manusia dan inovasi di bidang kesehatan khususnya teknologi mRNA, serta dengan Kementerian Kesehatan RI dan Tsinghua University dalam evaluasi vaksin. Selain itu, pada Indonesia-China Business Forum beberapa waktu lalu, Etana dan CanSino Bio menandatangani dokumen kerja sama di bidang biofarmasi dan vaksin yang disaksikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo, tambahnya. . Lebih lanjut, Nathan mengatakan, tantangan besar dalam industri biofarmasi adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Memang membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan SDM yang mampu memahami industri ini, namun secara pihak mereka meyakini bahwa SDM yang dimiliki Etana saat ini adalah orang-orang berpengalaman yang menguasai bidangnya. “Melalui transfer teknologi SDM, kita mempunyai banyak kesempatan untuk belajar tentang pengembangan biofarmasi. “Memiliki sumber daya manusia yang kompeten, Etana berharap dapat mendukung pengembangan bioteknologi di Indonesia,” tutupnya. (RO/B-4)

PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana), perusahaan biofarmasi asli Indonesia yang menjadi perusahaan pertama di ASEAN yang memiliki platform teknologi mRNA, telah mentransfer prestasinya dalam pengembangan rangkaian produk biologi dan vaksin melalui transfer teknologi dan kerja sama dengan berbagai pihak. baik di dalam maupun luar negeri.

Bacaan Lainnya

CEO Etana Nathan Tirtana mengatakan Etana saat ini sudah memiliki beberapa obat biologis, antara lain Erythropoietin Alfa yang digunakan pada pasien penyakit ginjal kronis (CKD) yang menjalani cuci darah untuk meningkatkan kadar darah merah (Hb) untuk mencegah anemia, dan antibodi monoklonal- Bevacizumab yang digunakan pada kanker. pasien untuk mengobati kanker paru-paru non-sel kecil stadium lanjut dan kanker kolorektal metastatik.

“Kami juga telah mengembangkan vaksin SARS-CoV-2 dengan teknologi mRNA yang merupakan vaksin Covid-19 pertama yang mendapat sertifikasi halal di dunia dari LPPOM-MUI dan diproduksi dalam negeri oleh Etana, serta vaksin PCV-13. yaitu vaksin anti inflamasi paru yang diberikan kepada anak – anak sampai dengan usia 2 tahun,” kata Nathan dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia, Kamis (4/1).

Nathan menjelaskan, pada tahun 2023, Etana akan fokus pada pengembangan produk biofarmasi melalui transfer teknologi yang dapat mempersingkat waktu produksi produk biologi dan vaksin. Untuk mencapai hal tersebut, Etana bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi terkemuka di berbagai negara. Selain itu, Etana juga bekerjasama dengan akademisi dan pemerintah untuk melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) untuk mengembangkan produk biologi baru sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, tambahnya.

Nathan mengatakan keadaan pandemi ini merupakan dorongan bagi industri kesehatan, yang harus menghadapi kenyataan betapa sulitnya mendapatkan vaksin untuk melawan Covid-19. Teknologi dalam negeri belum mampu menghasilkan vaksin dengan cepat, dimana proses produksi vaksin biasanya memakan waktu 5-10 tahun. Belajar dari situasi ini, Etana mencoba menjawab tantangan yang ada dengan memperkenalkan teknologi baru yaitu teknologi mRNA melalui transfer teknologi bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi Tiongkok. “Proses transfer teknologi mRNA sudah dilakukan dengan baik, saat ini kita hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk memproduksi vaksinnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nathan mengungkapkan bahwa selama tahun 2023, Etana telah menjalin beberapa kerjasama dengan institusi dalam dan luar negeri yang tentunya didukung oleh pemerintah, antara lain Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of New South Wales (UNSW) Australia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam pengembangan penelitian, sumber daya manusia dan inovasi di bidang kesehatan khususnya teknologi mRNA, serta dengan Kementerian Kesehatan RI dan Tsinghua University dalam evaluasi vaksin.

Selain itu, pada Indonesia-China Business Forum beberapa waktu lalu, Etana dan CanSino Bio menandatangani dokumen kerja sama di bidang biofarmasi dan vaksin yang disaksikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo, tambahnya. .

Lebih lanjut, Nathan mengatakan, tantangan besar dalam industri biofarmasi adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Memang butuh waktu lama untuk mendapatkan SDM yang mampu memahami industri ini, namun pihak meyakini SDM yang dimiliki Etana saat ini adalah orang-orang yang berpengalaman dan menguasai bidangnya.

“Melalui transfer teknologi SDM, kita mempunyai banyak kesempatan untuk belajar tentang pengembangan biofarmasi. “Memiliki sumber daya manusia yang kompeten, Etana berharap dapat mendukung pengembangan bioteknologi di Indonesia,” tutupnya. (RO/B-4)

Melalui transfer teknologi, Ethane berhasil memperluas jangkauan produksi dan mengembangkan inovasi dalam industri. Dengan adopsi teknologi yang canggih, Ethane dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produknya. Hal ini membantu perusahaan untuk terus berkembang dan menjadi pemimpin dalam industri tersebut.

Source

Pos terkait