Kecewa karena belum diperbaiki, warga menanam pisang di jalur kota

Kecewa karena belum diperbaiki, warga menanam pisang di jalur kota

Topautopay.com – Kecewa karena pemerintah belum memperbaiki jalan di kota mereka, sekelompok warga memutuskan untuk menanam pisang di jalur tersebut sebagai bentuk protes. Mereka merasa terpinggirkan dan memutuskan untuk bertindak sebagai bentuk kekesalan. Aksi ini menunjukkan ketidakpuasan warga terhadap ketidakpedulian pemerintah terhadap infrastruktur kota.

WARGA Provinsi Pidie, Provinsi Aceh, kecewa dengan kegagalan pemerintah Aceh dalam memperbaiki jalan rusak parah di kota Sigli-Jabal Ghafur. Faktanya, jalan pemerintah provinsi Aceh telah mengalami kerusakan parah selama puluhan tahun. Tak hanya rusak, lubang di sana juga kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas bagi pengemudi. Untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya, warga Desa Garot, Kabupaten Indrajaya, sudah tiga hari terakhir menanam pisang di jalan rusak tersebut. Setidaknya ada empat tempat penanaman pisang. Lokasinya tepatnya di kawasan Desa Blang Gatot, Kecamatan Indrajaya. Muslim, warga Kabupaten Indrajaya, kepada Media Indonesia, Sabtu (11/11) mengatakan, aksi penanaman pisang di beberapa titik jalan rusak seperti genangan air itu untuk mengungkapkan kekecewaan masyarakat terhadap sikap Pemprov Aceh. Terlebih lagi, pemerintah daerah tampaknya menutup mata terhadap keluhan warga yang berulang kali dan bertahun-tahun menyuarakan buruknya kondisi jalan tersebut. Baca juga: Jurnalis Dikabarkan Diintimidasi Saat Wawancara Firli Bahuri di Aceh “Ini bukan aksi emosional harus menanam batang pisang di jalan. Tapi ini aksi nyata masyarakat sudah jenuh menyampaikan aspirasinya. Sehingga terpaksa melakukan protes nyata justru menimbulkan pertanyaan mengapa mereka harus melakukan itu,” kata Muslim, Sabtu (11/11). Selain menanam pisang, warga juga menempelkan selebaran karton pada batangnya. Pada dua lembar karton terpisah terdapat spidol bertuliskan bahasa Aceh “Hoka Vlada” yang artinya Di Mana Pemerintahan. Baca Juga: Pemkab Cianjur dan Pemerintah Pusat Kerja Sama Rampungkan Ruas Jalan Londok-Bayuning Pamflet karton lainnya juga memuat nada protes “Hokaba Peng Pengtax Rakyat”, artinya Kemana Ambil Uang Pajak Rakyat? Muhammad Amin, tokoh masyarakat di Kecamatan Delima yang setiap hari melewati jalan Sigli-Jabal Ghafur mengatakan, kerusakan luar biasa di sepanjang jalur tersebut sudah terjadi selama bertahun-tahun dan belum pernah diperbaiki sepenuhnya. Itu hanya tambal sulam. Itupun terkadang hanya di beberapa titik sehingga banyak genangan air lainnya yang menganga. “Dana otonomi khusus (Otsus) Aceh akan terhenti, namun kerusakan jalan ini belum sepenuhnya diperbaiki sejak tahun 1998. Bahkan tak jarang pengemudi terjatuh atau mengalami kecelakaan lalu lintas,” imbuh pengendara mobil lainnya. (Z-9)

WARGA Provinsi Pidie, Provinsi Aceh, kecewa dengan kegagalan pemerintah Aceh dalam memperbaiki jalan rusak parah di kota Sigli-Jabal Ghafur. Faktanya, jalan pemerintah provinsi Aceh telah mengalami kerusakan parah selama puluhan tahun.

Bacaan Lainnya

Tak hanya rusak, lubang di sana juga kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas bagi pengemudi.

Untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya, warga Desa Garot, Kabupaten Indrajaya, sudah tiga hari terakhir menanam pisang di jalan rusak tersebut. Setidaknya ada empat tempat penanaman pisang. Lokasinya tepatnya di kawasan Desa Blang Gatot, Kecamatan Indrajaya.

Muslim, warga Kabupaten Indrajaya, kepada Media Indonesia, Sabtu (11/11) mengatakan, aksi penanaman pisang di beberapa titik jalan rusak seperti genangan air itu untuk mengungkapkan kekecewaan masyarakat terhadap sikap Pemprov Aceh. Terlebih lagi, pemerintah daerah tampaknya menutup mata terhadap keluhan warga yang berulang kali dan bertahun-tahun menyuarakan buruknya kondisi jalan tersebut.

“Ini bukan aksi emosional yang mengharuskan menanam batang pisang di jalan. Tapi ini aksi nyata masyarakat sudah jenuh menyampaikan aspirasinya. Sehingga terpaksa melakukan protes sehingga timbul pertanyaan kenapa harus dilakukan, kata Muslim, Sabtu (11/11).

Selain menanam pisang, warga juga menempelkan selebaran karton pada batangnya. Pada dua lembar karton terpisah terdapat spidol bertuliskan bahasa Aceh “Hoka Vlada” yang artinya Di Mana Pemerintahan.

Sementara itu, pamflet karton lainnya juga memuat nada protes “Hokaba Memungut Pajak Rakyat” yang artinya Kemana Anda Mengambil Uang Pajak Rakyat.

Muhammad Amin, salah satu tokoh masyarakat di Kecamatan Delima yang setiap hari melewati jalan Sigli-Jabal Ghafur mengatakan, kerusakan luar biasa di sepanjang jalur tersebut sudah terjadi bertahun-tahun dan belum pernah diperbaiki sepenuhnya. Itu hanya tambal sulam. Itupun terkadang hanya di beberapa titik sehingga banyak genangan air lainnya yang menganga.

“Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh akan berhenti, namun kerusakan jalan ini belum sepenuhnya diperbaiki sejak tahun 1998. Bahkan tak jarang pengemudi terjatuh atau mengalami kecelakaan lalu lintas,” imbuh pengemudi mobil lainnya.

(Z-9)

Ketidakpuasan warga terhadap kondisi jalan yang belum diperbaiki menyebabkan kekecewaan. Sebagai bentuk protes, warga menanam pisang di jalur kota yang rusak tersebut sebagai simbol ketidakpuasan mereka. Masalah infrastruktur kota perlu segera diatasi agar warga merasa dihargai dan nyaman. Kesadaran akan kebutuhan masyarakat menjadi hal utama dalam pembangunan kota yang berkelanjutan.

Source

Pos terkait