Bentuk harga IPO yang obyektif, BEI meminta penerbitan penjamin

Bentuk Harga IPO yang Objektif, BEI Minta Penjamin Emisi Lampirkan Laporan Riset

Topautopay.com – Bentuk harga IPO yang obyektif adalah hal yang penting dalam pasar modal. BEI meminta penerbitan penjamin untuk menetapkan harga IPO berdasarkan analisis yang obyektif, menghindari kepentingan pribadi. Hal ini bertujuan untuk melindungi kepentingan investor dan menjaga transparansi di pasar modal.

Bursa Efek Indonesia (BEI) ingin penetapan harga penawaran umum perdana (IPO) dilakukan secara objektif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah koordinasi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pihaknya berkoordinasi dan bekerja sama dengan Asosiasi Efek Indonesia (APEI). Selain itu, BEI juga meminta sponsor menentukan harga penawaran umum perdana (IPO) secara objektif, dan meminta laporan penelitian. “Pada dasarnya saat ini seluruh proses IPO telah melakukan analisa dan penelitian tersebut, namun sebelumnya analisa dan penelitian tersebut hanya bersifat terbatas. Dengan adanya kewajiban untuk mendokumentasikan hasil analisa dan penelitian tersebut dalam bentuk Laporan Penelitian Ekuitas, kami Mudah-mudahan bisa menjadi acuan resmi dalam menilai harga saham yang wajar,” kata Nyoman, Kamis (1 April). Baca juga: Sebagian besar indikator kinerja pasar saham akan tumbuh pada tahun 2023. Selanjutnya, untuk meningkatkan perlindungan investor, serta meningkatkan edukasi masyarakat sebagai dasar penilaian harga saham perusahaan yang baru tercatat, Bursa saat ini mewajibkan Penanggung untuk mempublikasikan Laporan Penelitian Modal mengenai perusahaan-perusahaan yang baru terdaftar yang dibawanya, sekurang-kurangnya dua kali dalam kurun waktu 12 bulan sejak perusahaan tersebut mulai dicatatkan di bursa. “Masyarakat dapat melihat dokumen Laporan Riset Ekuitas di website Bursa,” kata Nyoman. Baca juga: Pasar Modal Indonesia Masih Kompetitif. Itulah alasannya. Sementara itu, Nyoman menjelaskan, pembentukan harga IPO dilakukan dengan proses yang disebut bookbuilding (atau disebut juga “Initial Offering” sesuai POJK 41 Tahun 2020), yaitu dengan cara menggalang minat beli dari calon investor dengan harga yang telah ditentukan (misalnya dari 100 hingga 300 rupee). Investor cukup mengatakan kalau mau membeli, berapa harganya (dalam rentang harga) dan berapa (banyak saham). Kurva permintaan akan terbentuk dari seluruh minat investor yang masuk. Dari kurva permintaan ini, perusahaan bersama sponsor akan menentukan berapa harga yang akan ditetapkan sebagai harga IPO. Oleh karena itu, penentuan harga IPO juga ditentukan oleh tingkat minat calon investor pada masa book building ini. Proses pendaftaran ini (sesuai POJK No. 41 Tahun 2020) difasilitasi dalam Sistem Penawaran Umum Elektronik (E-IPO). “Dalam hal harga ditetapkan di luar kisaran harga yang telah ditetapkan, maka perseroan wajib memberikan penjelasan dan pertimbangan serta wajib mencantumkannya dalam prospektus,” kata Nyoman. Sedangkan kisaran harga ditentukan bersama-sama perusahaan dan penjamin emisi dari berbagai variabel, antara lain nilai perusahaan berdasarkan proyeksi kinerja perusahaan pasca IPO dibandingkan sebelum IPO, dari kinerja dan kinerja perusahaan sejenis (baik sektor maupun size). ), dan seterusnya. Untuk itu diperlukan analisis dan penelitian yang tepat yang dapat mencerminkan tidak hanya nilai perusahaan saat ini, tetapi juga nilainya di masa depan, jelas Nyoman. (Upaya/Z-7)

Bursa Efek Indonesia (BEI) ingin penetapan harga penawaran umum perdana (IPO) dilakukan secara objektif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah koordinasi dan kerja sama dengan berbagai pihak.

Bacaan Lainnya

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Gede Nyoman Yetna mengatakan, pihaknya berkoordinasi dan bekerja sama dengan Asosiasi Efek Indonesia (APEI). Selain itu, BEI juga meminta sponsor menentukan harga penawaran umum perdana (IPO) secara objektif, dan meminta laporan penelitian.

“Pada dasarnya saat ini seluruh proses IPO telah melakukan analisa dan penelitian tersebut, namun sebelumnya analisa dan penelitian tersebut hanya bersifat terbatas. Dengan adanya kewajiban untuk mendokumentasikan hasil analisa dan penelitian tersebut dalam bentuk Laporan Penelitian Ekuitas, kami Mudah-mudahan bisa menjadi acuan resmi dalam menilai harga saham yang wajar,” kata Nyoman, Kamis (1 April).

Sebagian besar indikator kinerja pasar saham akan naik pada tahun 2023

Lebih lanjut, guna meningkatkan perlindungan investor, serta meningkatkan edukasi masyarakat sebagai dasar penilaian harga saham emiten baru, saat ini Bursa mewajibkan sponsor untuk mempublikasikan laporan penelitian permodalan pada emiten baru yang dimilikinya, minimal dua kali. sehari per tahun Jangka waktu 12 bulan sejak dimulainya pencatatan Perseroan di bursa efek.

“Masyarakat dapat melihat dokumen Laporan Riset Ekuitas di website Bursa,” kata Nyoman.

Pasar modal Indonesia masih kompetitif. Inilah alasannya

Sementara itu, Nyoman menjelaskan, pembentukan harga IPO dilakukan melalui proses yang disebut bookbuilding (atau disebut juga “Initial Offering” sesuai POJK 41 Tahun 2020), yaitu dengan mengumpulkan minat beli dari calon investor pada kisaran harga yang telah ditentukan (misalnya Rp100 hingga Rp300).

Investor cukup mengatakan kalau mau membeli, berapa harganya (dalam rentang harga) dan berapa (banyak saham).

Kurva permintaan akan terbentuk dari seluruh minat investor yang masuk. Dari kurva permintaan ini, perusahaan bersama sponsor akan menentukan berapa harga yang akan ditetapkan sebagai harga IPO.

Oleh karena itu, penentuan harga IPO juga ditentukan oleh tingkat minat calon investor pada masa book building ini.

Proses pendaftaran ini (sesuai POJK No. 41 Tahun 2020) difasilitasi dalam Sistem Penawaran Umum Elektronik (E-IPO).

“Dalam hal harga ditetapkan di luar kisaran harga yang telah ditetapkan, maka perseroan wajib memberikan penjelasan dan pertimbangan serta wajib mencantumkannya dalam prospektus,” kata Nyoman.

Sedangkan kisaran harga ditentukan bersama-sama perusahaan dan penjamin emisi dari berbagai variabel, antara lain nilai perusahaan berdasarkan proyeksi kinerja perusahaan pasca IPO dibandingkan sebelum IPO, dari kinerja dan kinerja perusahaan sejenis (baik sektor maupun size). ), dan seterusnya.

Untuk itu diperlukan analisis dan penelitian yang tepat yang dapat mencerminkan tidak hanya nilai perusahaan saat ini, tetapi juga nilainya di masa depan, jelas Nyoman. (Upaya/Z-7)

Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penerbitan penjamin untuk memastikan objektivitas dalam penetapan harga IPO. Hal ini bertujuan untuk mencegah penipuan dan manipulasi harga saham. BEI juga mendorong penerbitan prospektus yang transparan dan akurat untuk memberikan gambaran yang jelas kepada investor potensial.

Source

Pos terkait